Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Cerpen Cinta | Harga Sebuah Maaf


Judul Cerpen : Cerpen Cinta "Harga Sebuah Maaf"
Penulis : Hatta Syamsuddin
cerpen islami tentang maaf
Harga Sebuah Maaf

Lorong-lorong kamar rumah sakit itu mulai sepi. Lorong-lorong kamar rumah sakit itu mulai sepi. Malam kian larut. Para pembesuk semakin jarang terlihat. Disudut-sudut bangunan penunggu pasien secara berkelompok menggelar tikar untuk alas tidur. Sebagian diantara mereka masih asyik bercengkarama. Sebagian yang lain telah tidur kelelahan. 

Kamar perawatan itu terletak di ujung selatan Rumah Sakit tersebut. Diatas pintu tertulis ''ICU", tak semua pasien boleh masuk ruangan tersebut. Di ranjang nomor lima, seorang gadis muda terbaring lemas. Ia menggunakan selang oksigen, nafasnya naik turun tak beraturan. Ia masih terjaga namun mengalami shock yang parah. Matanya sesekali terpejam dan sesekali terbelalak tajam menatap ke langit-langit kamar. Mulutnya kadang terbuka seolah ingin berteriak, namun hanya lirihan kecil yang terdengar. Air matanya pelan menetes membasahi pipi. Suasana sangat syahdu. 

Disampingnya, ayah dan ibunya hanya bisa memandang penuh iba. Sang ayah bibirnya terus berkomat-kamit membaca doa. Sementara sang ibu tak mampu lagi memandang penderitaan anak gadisnya. Ia hanya terus menangis dan mengusap rambut anak nya tercinta. Keluarga itu tampak belum bisa menerima dengan kejadian yang menimpa anak gadisnya malam ini. Santi, nama putrinya tersebut, baru saja tertimpa kejadian yang tak akan dapat dilupakan sepanjang hidupnya. Beberapa jam lalu ia diperkosa oleh tiga teman sekolahnya !!!. Kejadiannya sangat cepat dan tak terduga. 

Berawal dari acara perpisahan kelas III yang diadakan di salah satu rumah temannya. Ketika acara usai, Santi menunggu sang ayah yang berjanji akan menjemputnya. Namun ayahnya terjebak kemacetan karena hujan selama berjam-berjam. Muncullah tiga temannya Andi, Ryan dan Jefrri menawari untuk mengantarkannya. Santi ikut saja naik ke mobil kijang Andi karena ia tahu rumah Jefri hanya beberapa blok dari rumahnya. Ternyata Santi salah sangka. Andi yang memang terkenal berandal di sekolah, rupanya baru saja menenggak beberapa butir pil ekstasi. Begitu juga dua temannya, Jefri dan Ryan. Andi mengarahkan mobilnya ke jalanan yang sepi. Dan terjadilah pemerkosaan keji itu. Santi yang malang ditinggalkan dengan pakaian berantakan di ujung jalan menuju rumahnya. Santi pingsan, ia mengalami shock berat ditambah penyakit asmanya yang juga kambuh. Dokter memperkirakan Santi akan mengalami trauma berkepanjangan secara psikologis. 

************* 

Ruangan berdinding tebal itu terasa gelap mencekam. Salah satu sisinya dibatasi oleh jeruji besi yang kokoh dan tebal. Sinar bulan malu-malu menerobos celah-celah jeruji tersebut, menerangi sisi depan ruangan itu. Luas sel penjara itu hanya berkisar empat kali delapan meter persegi, namun penghuninya mencapai tiga belas orang. Semua penghuni sel nomor B 32 LP Cipinang itu sedang tidur nyenyak. 

Dinginnya udara musim hujan cukup menjadikan alasan bagi mereka untuk terus terlelap dalam mimpi-mimpi indahnya. Namun di salah satu sudut sel itu, tampak sesosok pemuda tertunduk dalam duduknya. Ia baru saja selesai melakukan shalat tahajjud. Ia masih saja menumpahkan seluruh penyesalannya kepada Allah SWT, teringat perbuatan kejinya tiga minggu yang lalu. Ia benar-benar tak menyangka kalau segelas sirup yang ditawarkan dua temennya, Andi dan Jefri, ternyata campuran beberapa pil setan yang selama ini tak pernah di sentuhnya. Minuman itu membuat jiwanya serasa melayang. Kemudian ia pun ikut saja ketika dipaksa kedua karibnya untuk ikut memperkosa Santi, teman perempuannya satu sekolah. Ia baru sadar ketika borgol polisi bersarang di kedua pergelangan tangannya. Ryan, demikian ayahnya memberi nama, masih tak percaya dengan perbuatannya. 

Kini ia merasa seluruh dunia menghakiminya. Bayangan ayah, ibu, dan kakeknya terus membuntutinya. Bayangan Santi dan keluarganya juga selalu muncul dalam benaknya. Mereka semua seolah ingin bersama-sama membunuh Ryan. Aaah,…Ryan kembali tertunduk lemas. Kepalanya tersungkur bersujud menempel di lantai penjara yang dingin. Mulutnya terus beristighfar meminta keampunan. Butir-butir airmata dan isak tangisnya tak kunjung mereda. 

Dinding-dinding penjara menjadi saksi pertaubatannya. Sudah tiga minggu ini Ryan ditahan di sana bersama napi-napi kriminal lainnya. Kasusnya sekarang sedang diproses di pengadilan Dua temannya, Andi dan Jefri, masih kabur entah kemana. Tadi pagi di persidangan, jaksa membacakan tuntutan kepadanya hukuman minimal tiga tahun penjara. Ryan merasa masa depannya sudah tamat. Keinginannya untuk melanjutkan kuliah di Yogyakarta terhapus sudah. Hari-harinya kini akan dilalui bersama para narapidana lainnya. Mantan aktifis di sekolahnya itu tak pernah menyangka bahwa jalur hidupnya akan berubah seperti ini. 

**************** 

Enam tahun berselang …… Matahari siang tampak terasa menyengat. Ratusan wajah ceria baru saja keluar dari Gedung serba guna Universitas Indonesia Depok. Sebagian besar di antara mereka menggunakan baju toga. Sinar cerah kebanggaan muncul dari para orangtua yang menyertai upacara wisuda putra-putrinya. Hari itu Fakultas Psikologi UI kembali melepas mahasiswa-mahasiswi terbaiknya. Seorang perempuan berjilbab dan berbaju toga tampak masih sibuk berfoto dengan keluarganya. Sejurus kemudian muncul beberapa wartawan kampus yang mengerubutinya. 

Mereka mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Nampaknya sosok perempuan berjilbab dan bertoga itu cukup berpengaruh di kampus tersebut. " Selamat Mbak Santi , bagaimana perasaan anda menjadi lulusan terbaik tahun ini ?", salah seorang wartawati berkacamata langsung menyodorkan pertanyaan. 

" Terima kasih adik-adik semua, ini semua karena Allah dan dorongan dari keluarga, temen dan juga adik-adik… ", jawab perempuan itu dengan halus. 

" Terus apa rencana Mbak setelah ini, apakah Mbak menerima tawaran untuk mengajar di fakultas ini ? bagaimana juga dengan LSM pembinaan siswa SMU yang Mbak pimpin ? ", wartawan lain tak kalah semangat ikut bertanya. 

" Dalam waktu dekat ini, insya Allah saya masih akan aktif di LSM. Selain itu, saya juga akan mempersiapkan untuk mengambil progam S2.." Seorang wartawan berambut gondrong dengan muka serius bertanya, " Bagaimana dengan rencana pernikahan ? Apakah kami-kami ini para yunior masih mempunyai kesempatan …? ". 

Wartawan yang lain ramai tersenyum kompak. Sementara raut muka Santi malah berubah muram. Ia segera minta izin untuk menyingkir dari kerumunan tersebut. Pertanyaan yang terakhir tadi cukup membuatnya  bersedih. Ia sangat takut dengan kata pernikahan. Ia bahkan pernah bertekad untuk tidak akan menikah seumur hidup. Santi nampaknya masih cukup trauma dengan kejadian enam tahun yang lampau. Kejadian yang memporak- porandakan jiwa dan kehormatannya sebagai seorang gadis. 

***************** 

Pesawat British Airways dengan nomor penerbangan 314 baru saja mendaratkan rodanya di Bandara Internasional Sukarno-Hatta. Seorang pemuda tegap berpakaian rapi keluar dari pintu keluar penumpang. Rambutnya tertutup topi putih berlambang bulan sabit merah. Tatapannya teduh mengitari seluruh kawasan bandara. Ia membawa begitu banyak koper bawaan. Pemuda itu menoleh kiri dan kanan, ia masih tampak asing dengan suasana bandara, bahkan suasana Jakarta. Maklumlah, sudah hampir lima tahun ia meninggalkan Indonesia. Tak berapa lama, sebuah Taksi meluncur bersama pemuda tersebut, mengantarkannya menuju ibu kota. 

" Dari luar negri ya Nak, dimana tuh ? kuliah atau kerja ? " , sopir Taksi yang berusia empatpuluhan itu membuka pertanyaan. 

 " Dari Inggris Pak, Nama saya Ryan, saya baru lulus kuliah kedokteran. Oya, nama Bapak siapa ? ", pemuda yang bernama Ryan itu menjawab dengan akrab. 

 " Saya Anwar, asli Jawa Tengah. Kalau saya ini cuma lulusan SMP nak, jadi supir taksi saja udah beruntung, nggak kayak sampeyan …" 

" Masa lalu saya kelam Pak. Allah-lah yang membimbing saya hingga berhasil lulus seperti sekarang ini. Alhamdulillah…" Taksi terus meluncur menuju pusat kota Jakarta. Pemuda itu adalah Ryan, mantan narapidana kasus permerkosaan enam tahun lalu. Waktu itu pengadilan menjatuhkan vonis baginya hukuman dua tahun penjara. Setelah melewati masa hukuman, Ryan meninggalkan tanah air untuk belajar kedokteran di Inggris. Ia ingin melupakan segala kenangan pahitnya di masa lalu. Ryan sekarang adalah seorang dokter. Ia juga aktifis lembaga "Bulan Sabit Merah ", sebuah lembaga kemanusiaan dan kesehatan internasional yang bertugas menangani daerah-daerah konflik . Empat tahun sudah ia meninggalkan tanah air, kini ia ingin berbuat lebih untuk bangsanya. 

************* 

Bus Patas empat arah Pulogadung-blok M seperti biasa, pada jam-jam duabelas, terasa agak lenggang. Hanya beberapa penumpang yang berdiri bergelantungan. Sementara arus jalan tol Cawang agak padat. Setiap kendaraan melaju berurutan dengan kecepatan sedang. Santi duduk di barisan keempat dari depan. Ia masih sibuk dengan tiga lembar makalah singkat yang ditulisnya sendiri. Siang itu ia dapat undangan mengisi ceramah yang diadakan teman-teman UIN, Rawamangun. Sebagai seorang aktifis LSM, Santi memang sering diundang berbicara di kalangan kampus. Tiba-tiba seorang pemuda berbadan tegap maju ke depan dan berdiri menghadap penumpang. Pakaiannya rapi, ia membawa sebuah tas koper kecil. Ia memulai pembicaraan dengan salam dan pembukaan yang santun. Perkataan yang keluar dari mulutnya pun terasa akrab. 

 "…. .. perkenankanlah kami membagikan buletin ini, agar kita semua tahu dan peduli dengan apa yang menimpa saudara kita sesama muslim. Baik itu di Aceh, Maluku, Poso, Sampit, bahkan di Palestina dan Afghanistan. Apabila bapak dan ibu ingin informasi lebih banyak, silahkan hubungi alamat kami sebagaimana tertera dalam buletin …." 

Hampir lima menit pemuda itu berbicara. Setelah itu ia membagikan buletin secara gratis kepada tiap penumpang. Sebagian penumpang menunjukkan perhatian yang lebih terhadap pemuda tersebut. Bukan saja karena ia berpenampilan rapih, namun juga karena tutur katanya yang halus dan santun. Selain itu, pemuda ini juga tidak menjual nama organisasi untuk mengumpulkan dana sebagaimana yang lainnya. Santi sibuk mengulang-ulang beberapa bagian dalam makalahnya. Ia tidak peduli dengan celotehan sang pemuda. Mulanya Santi mengira pemuda itu hanya akan meminta dana sumbangan untuk masjid atau yang lainnya. Namun Santi salah sangka. Pemuda itu ternyata hanya ingin membagikan sebuah buletin tentang kemanusiaan. Dengan agak penasaran, sekilas Santi melirik ke arah pemuda yang masih sibuk membagi buletin tersebut. Ternyata yang dilihatnya adalah sosok yang dikenalnya sekitar enam tahun lalu…… 

 " Haaaa…. Ryyyyyaaan …???", Santi berteriak lirih. 

Ia terkejut bukan kepalang. Ingatannya segera melayang ke kejadian yang menimpanya enam tahun lalu. Wajahnya tertunduk dan raut mukanya memerah, dadanya terasa menggelegak. Ia menyimpan gejolak dendam yang amat sangat. Ia tak menyangka akan bertemu dengan orang yang telah memperkosanya, orang yang menghancurkan kehormatannya . Namun benarkah ia Ryan ? Benarkah ia sudah bebas ? dan apa urusannya dengan organisasi kemanusiaan ? Bukankah ia penjahat pemerkosa wanita ?. Santi menutup mata rapat-rapat. Kejadian itu masih membayanginya. Dalam hati ia bersyukur karena Ryan tak mengenalinya, mungkin karena ia kini berjilbab. Atau mungkin karena pandangan mata Ryan yang selalu tertunduk tidak liar seperti dulu ?. Santi bungkam, seribu satu pertanyaan dan kegalauan berkecamuk di benaknya. 

************* 

Ruang keluarga itu tak begitu luas, tapi susunan interiornya menandakan penghuninya mempunyai citarasa seni yang tinggi. Santi duduk santai membaca beberapa buku seri psikologi terbarunya. Ayahnya sibuk mencermati judul-judul sebuah harian sore ibukota. Sang ibu nampak datang dari arah dapur dengan senyuman khasnya. Ibu Santi memulai pembicaraan, 

 " Santi sayang, kamu sudah siap untuk berkeluarga belum ..", Santi kaget dengan pertanyaan dari ibunya yang tak disangka-sangkanya itu. 

 " Maksud ibu ..? menikah ? ….nggak, Santi belum siap ", dengan agak santai Santi menjawab. 

Memang benar, selama ini Santi selalu menghindar ketika ditanya tentang pernikahan. Ia masih trauma dengan kejadian masa lalunya. Ia selalu menganggap tak pantas untuk menikah. Lebih dari itu, ia juga tidak gampang percaya lagi dengan laki-laki manapun. 

" Kenapa Ibu tiba-tiba bertanya seperti itu ..?", Santi balik bertanya. 

" Tadi ada yang datang melamarmu, ia ingin menikah denganmu..". Suara ayahnya terdengar seperti petir menyambar telinga Santi. 

Ia kaget bukan kepalang, hatinya berdegup kencang. Siapakah gerangan yang berani melamarnya ? Ibunya menambahkan sambil mengusap rambut Santi, " Ia seorang dokter lulusan London, kini bekerja di RS Cipto dan aktif di organisasi kemanusiaan. Kamu sudah mengenalnya sebelum ini Santi…. " 

" Haaah !! Santi mengenalnya ? Siapa di Bu ?", potong Santi dengan cepat. Rasa penasarannya semakin memuncak. Kini giliran ayahnya yang mengangkat suara, " Dia adalah Ryan, teman SMA mu dulu…." 

" Ryan ??? Tidak mungkin..!!! Ayah dan Ibu menyetujuinya ???, dia adalah penghancur masa depan Santi !! tidak mungkin Santi menikah dengannya …", Santi berkata dengan sedikit emosi. 

Ingin rasanya ia menumpahkan kekesalannya pada kedua orangtuanya yang mendadak mempunyai pikiran seperti itu. 

" Tapi ia sudah bertaubat Santi, bukankah ia juga sudah mendekam di penjara selama dua tahun ? " 

" Bagaimanapun seorang penjahat tetap penjahat, relakah ayah dan ibu kalau Santi bersuamikan seorang penjahat ..!!" 

" Tapi ia bukan penjahat Santi, ….. ia kini ingin mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada mu dulu…" 

 " Tidaaaak…… tidaaaak… ". Santi berteriak histeris. Ia berlari menuju kamar dengan cepat, dikuncinya pintu dari dalam. Di atas pembaringan ia menumpahkan kekesalannya dengan menangis sedalam-dalamnya. Ia tak percaya kalau kedua orangtuanya mnedukung lamaran Ryan. Baginya Ryan adalah penjahat, sampah masyarakat yang tak berhak untuk hidup berkeliaran, apalagi menikah dengan dirinya !. 

********** 

Dua bulan lewat, Santi merasa lebih tenang. Ayah dan ibunya bisa memahami penolakannya terhadap lamaran Ryan. Ia kini disibukkan dengan serangkaian tugas lapangan di LSM yang dipimpinnya. Hari itu, sepulang dari kantor LSM-nya, Santi bergegas masuk kamar. Setelah berganti pakaian, seperti biasa ia memilih duduk santai di ruang keluarga untuk membaca buku-buku koleksi terbarunya. Tak sengaja ia melihat ke lembaran koran sore di atas meja yang belum sempat di baca ayahnya. Ada sebuah judul berita yang menarik perhatiannya. Dibacanya berita itu dengan lebih teliti, …… 

" Pesawat tempur AS kembali salah sasaran dalam serangkaian pengeboman Selasa malam di tepi utara kota Kandahar, Afghanistan. Sebuah instalasi kesehatan darurat terkena bom membabi buta yang mengakibatkan sedikitnya 32 orang gugur. Seorang sukarelawan muda asal Indonesia bernama dr. Ryan, 25 tahun, ikut gugur dalam peristiwa pemboman tragis tersebut….. 

" Santi terhenyak dari tempat duduknya. Ia membaca berita itu sekali lagi, dua kali, dan berulang-ulang kali seolah tak percaya. Ia terduduk dengan lemas. Lembaran koran itu lepas begitu saja dari genggamannya. Matanya nanar memandang ke langit-langit rumahnya. Pandangannya kosong, matanya mulai berkaca-kaca. Ryan, pemuda yang paling dibencinya, gugur dalam perjuangannya membantu korban perang di Afghanistan. Ada perasaan kehilangan bergermuruh di dadanya. Butiran-butiran air mata Santi mulai menetes membasahi pipinya. Ia berdoa lirih, 

" Ya Allah….. maafkanlah Ryan, Ya Allah…. Ampunilah dosa-dosanya, karena sesungguhnya…. aku telah memaafkannya… ". 

(selesai)

Cerpen Islami | Istri Baru Gede


Judul Cerpen : Istri Baru Gede
Penulis : Hatta Syamsuddin


cerpen islami, kumpulan cerpen islam


Istri Baru Gede

“ Wow ! Aku masih cantik ! Hari ini kau lahir kembali Anita ! Selamat tinggal si imut rambut kepang dua. Selamat tinggal bando tweety kesayangan, bye..byee.. ”. 

Anita, mahasiswi yang baru setahun kuliah itu tersenyum bangga. Ia mendapati bayangannya dalam cermin begitu memukau. Jilbab biru mungil itu melingkari lehernya dengan tepat. Dipadu dengan blus biru muda panjang dan celana jeans yang senada dengan warna jilbabnya ! Ia bukan lagi gadis korban mode ala amrik. Meski tumpukan majalah Gadis, Aneka, plus koleksi album penyanyi favotitnya semacam Mariah Carey dan Bryan Adam, masih rapi memenuhi rak bukunya. Beberapa saat berlalu, Anita masih tersenyum-senyum di depan cermin. Siang ini ia akan lolos dari kejarah Ipunk . Dia pasti terkecoh dengan penampilan baru Anita. Biasanya, temen satu jurusannya itu paling rajin menarik-narik kepang rambut Anita. Alasan Ipunk simpel, dia inget kegagahan Zorro saat menarik tali kudanya ! 

Anita juga membayangkan bagaimana reaksi Mbak Hana saat ketemu dengannya nanti. Mbak Hana pasti akan tersenyum puas, pikir Anita. Dia yang selama ini rajin memprovokasi Anita untuk memakai jilbab. “Tapi Mbak, Rambut indah Anita nanti gimana ? sayangkan kalo ditutup begitu aja. Udah susah-susah kita ngerawatnya …? “, kilah Anita suat ketika. Saat Mbak Hana memberi nasehat untuk menutupi rambutnya. “ Lha justru itu yang harus ditutup dek.. rambut kan termasuk aurat wanita “

“ Aurat apaan sih kak ? kenapa harus di jaga ? “ 

“ Aurat tuh yang paling suka bikin mata para cowok pada mlotot ! dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kecuali telapak tangan dan wajah !. Aurat itu milik kita yang berharga, masak kita obral begitu aja di jalanan.“ 

“ Oooo….kalo aurat , kita umpetin buat siapa Mbak ? “ 

“ Jelas buat suami Anita nanti ! Ngerti kan adikku sayang ? Anita kebayang gak kalau suami Anita nanti, misalnya, dia suka melototin aurat wanita ?? Nah, kita pasti gak seneng kan. Makanya sebagai wanita kita juga musti tutup aurat, supaya nggak banyak calon-calon suami kita yang jelalatan matanya nanti “ 

“ Oo..begitu ya mbak, Anita jelas pengin suami Anita nanti yang suka nunduk-nunduk kalo jalan, yang matanya nggak jelalatan, persis Bang Heru, abang kandungku tercinta ! “ 

Anita akhirnya menyerah juga. Apalagi saat Heru, abang kandungnya yang juga aktivis masjid di kampus, menghadiahi Anita selembar jilbab yang mungil. Anita memang masih belepotan kalau harus pakai jilbab yang lebar. Mata Anita masih berbinar lebar saat Heru masuk ke kamarnya.
Abangnya menyapa dengan haru . 

“ Waw.. Subhanaallah, bidadari kecilku sekarang begitu bersahaja…apalagi kalau celana jeansnya di ganti rok panjang yang dikasih Mbak Hana kemariin..” Heru menggoda adik satu-satunya itu. 

“ Ah, Bang Heru.. ada saatnya deh Nita pake Rok panjang, atau jubah sekalian kayak Mbak Hana. Sekarang Nita mau enjoy dulu pake jilbab dan celana jeans kayak gini. Sayang kan kalau jeans ini diobral begitu aja, apalagi yang ini kan belum lama Nita belinya.. Gak papa toh Kak ? “, timpal Nita manja. 

“ Gak papa, tapi jangan kelamaan pake jeansnya.. bisa telat nikah nanti hiiii “ 

“ Telat Nikah ? yee..apa hubungannya… “ 

Mendengar kata nikah, Anita tersenyum lucu. Abangnya memang sering kampanye nikah dini di depan bapak-ibu mereka. Tapi bagi Nita, yang baru setahun melepas baju seragamnya, kata nikah masih sangat asing. Namun ia masih inget benar pesan Mbak Hana, " dik Nita kalau mau nikah, nggak perlu tunggu Mbak Hana yach ? Tapi syaratnya, harus cari calon suami yang sholeh, rajin sholat, rajin ngaji, aktifis masjid diutamakan, trus bla..bla….

" Panjang lebar Mbak Hana menasehati Anita tentang calon suami yang ideal. Mendadak hati Anita teringat sebuah sosok seniornya yang dikaguminya beberapa hari ini. 

“ Mungkin nggak ya aku yang slebor ini jadi istrinya nanti”, tanya Anita dalam hati, penuh semangat. Namun buru-buru Anita tersadar, ia tidak mau jadi pungguk yang merindukan bulan. Lagian, menurutnya, Mbak Hana jelas lebih serasi jika dipasangkan dengan sosok yang dikaguminya itu.

Sudut ruang ICU rumah sakit islam itu tampak lenggang. Hanya sesekali satu dua perawat lewat menyapu pandangan. Anita dan Heru duduk terpekur di ruang khusus penjenguk. Mata bening Anita masih sembab, sudah satu jam 10 ini airmatanya tak pernah berhenti terisak. Heru terlihat lebih tabah, mushaf AlQuran di tangannya membantu pikirannya tertata lebih jernih. Mereka berdua sedih dan bingung. 

Siang tadi, Pak Hendra, ayah mereka tercinta masuk rumah sakit. Penyakit jantung koronernya kambuh, dan harus segera di operasi. Padahal, ayah mereka sudah lama juga menderita diabetes. Kata dokter, kemungkinan sembuh paska operasi bagi penderita diabetes sangat kecil. Namun yang membuat mereka bingung bukan cuma pernyataan dokter tersebut. Ayah mereka tercinta, saat siuman beberapa jam yang lalu, mempunyai sebuah permintaan terahir yang sangat membingungkan mereka semua. 

" Ibu.. Bapak ngerasa penyakit bapak sudah sangat parah, mungkin sebentar lagi Bapak akan meninggalkan ibu dan anak-anak semua. Sebelum Bapak pergi, bapak ada satu permintaan… ", bisik Pak Hendra pada istrinya, pelan dan lemah. 

" Apa pak, ucapkan permintaan Bapak, saya dan anak-anak pasti akan memenuhinya… Apa yang bapak inginkan …", jawab bu Hendra dengan suara terisak. Matanya lembab berkaca-kaca. 

" Sebelum meninggal, Bapak ingin menikahkan Anita terlebih dahulu. Bapak ingin melihat Anita menikah, di dampingi suaminya, siapapun dia. Anita anak perempuan kita satu-satunya, bapak belum tenang jika ia belum menikah. Bukankah ini perintah agama bagi setiap ayah, untuk menikahkan putrinya Bu..? ", Pak Hendra menjelaskan permintaan terakhirnya. 

Wajahnya terlihat sangat berharap. Anita dan Heru bingung, esok lusa ayahnya akan dioperasi. Berarti sebelum itu, Anita harus sudah nikah, sebagaimana permintaan terakhir ayahandanya tercinta. Anita sangat ingin membahagiakan ayahnya, tapi mungkinkah ? Ia belum punya gambaran tentang pernikahan, rumah tangga, bagaimana menjadi istri yang baik, atau bahkan bagaimana ketika hamil dan harus menjadi seorang ibu ?. 

Hiii..Anita menutup wajahnya penuh kengerian. Terbayang ejekan nakal kakaknya, Heru, saat ia mencoba bikin eksperimen telor dadar di dapur. Hasilnya sudah bisa ditebak, gosong. Telur dadar ‘afrika’ bikinan Anita harus dikorbankan untuk menemani sisa-sisa sampah di tempat pembuangan. Terbayang pula koleksi boneka barbienya yang menggunung, komik-komik petualangan Tintin, Asterix, Lucky Luke, sampai Sailormoon yang tersimpan rapi di perpustakaan mininya. 

Haruskah ia mengucapkan selamat tinggal pada semua harta karunnya itu ?.Belum lagi dengan boneka gorilla setengah meter, hadiah dari pamannya yang S2 di Aussie. Apakah suaminya nggak cemburu kalau harus seranjang bertiga dengan gorilla ? Satu pertanyaan yang harus di jawab lagi , dengan siapa Anita akan menikah ? 

Bu Hendra, Heru, dan Anita sendiri tentu kalang kabut dengan permintaan mendesak dari Pak Hendra, orang yang paling mereka cintai. Bagaimana dengan mantan pacar Anita ? Wow ! jumlahnya selusin ! Untuk menyeleksinya pun diperlukan waktu lebih dari seminggu. Itu berarti terlambat, karena waktu operasi tinggal esok lusa. Di luar kamar perawatan, bu Hendra dan kedua anaknya masih membahas masalah pelik ini. Pernikahan bukan urusan sembarangan. Susah mencari pasangan buat si kecil Anita, yang sebagian besar malam-malamnya dihabiskan di kamar tidur ibunya!

“ Bagaimana jika dengan Roni, mantanmu saat baru masuk SMU dulu ? Surat-surat cintanya kan masih kamu simpen rapi di lemarimu kan ? Itu berarti kamu masih cinta ya sama dia. Lagi pula, ayahmu kan nggak mempermasalahkan dengan siapa. Yang penting kamu nikah besok lusa ! “, bu Hendra mulai mengusulkan sebuah nama di masa lalu Anita. 

“ Apaa ? Roni mah ? Nggak mau. Dia tuh masih anak mama banget. Jangankan nikah, tidur aja masih susah sebelum dinina bobokin sama mamanya ..” , Anita memrotes usulan mamanya. 

“ Ya udah, kalau gitu sama Mas Bayu aja ya, putranya pakdemu yang di Jogja. Dia kan baru lulus kuliah, sekarang mungkin udah kerja di perusahaannya pak Dhe. Orangnya simpatik lho, ramah, khas orang kratonan deh ! “, Bu Hendra mempromosikan putra tertua kakaknya yang di Jogja. 

“ Mas Bayu ? Ogah mah, Nita masih dendam.. waktu kecil kan Nita pernah diketapel sama dia. Lagian, terlalu banyak perbedaanya mah, Nita kan suka pop, kalau mas Bayu dari dulu kan penggemar kroncong ! Belum lagi kalau ada acara-acara di kraton, nggak mungkin kan putri cantikmu ini disuruh pakai jarit dan kebaya khas pesinden ? Norak banget Mah… pokoknya enggak deh ! “, Anita teguh menolak tawaran ibunya. 

Bu Hendro menyerah, giliran Heru mencoba memberi solusi. Tapi ia juga kehabisan ide. Teman-temannya di masjid ? Mana mungkin mereka mau. Melihat cewek berjilbab seleher saja mereka sudah apatis, bagaimana lagi jika di tambah dengan celana jeans !. Merasa putus asa, iseng-iseng Heru menawarkan teman sejurusannya. 

“ Nita, berminat nggak sama si Anjas, temen sekelas kakak ! “

Bola mata Anita sempat melebar. Mungkin ia merasa tidak menginjak bumi lagi. 
“ Waaaw, yang bener Kak ? Nggak kuku deh ! Anjasmara sang Pangeran Kampus yang pemain sinetron itu kan ? Horee… mau doong ! Siapa tahu Nita juga bisa nebeng tenar, itung-itung investasi pengalaman buat jadi bintang film kaan. 

“ Eh..tapi… “ 

“ Tapi apa Nita ? “, kakaknya bertanya heran. 

“ Tapi apa mungkin kak ? Anjas kan di jaga ketat sama tiga bidadarinya yang cantik-cantik. Mana mungkin Nita bisa menang bersaing dengan mereka yang serba lebih dan wah. Ogah ah, Nita nggak mau kalah secara memalukan. “

Permasalahan belum usai, Anita masih gamang menentukan pilihan. Tak ada yang diminati dari nama-nama yang ditawarkan mamah dan abangnya. Sampai akhirnya Anita berterus terang tentang sosok yang dikaguminya itu. 

“ Bang Heru, boleh nggak Anita terus terang. Anita sebenarnya suka sama temennya mas Heru….eeng…”, agak malu-malu Anita mengungkapkan perasaannya. 

“ Temen mas Heru, siapa ? yang dimana ? di kampus, di BEM, atau yang di masjid Kampus ? Boleh..boleh, sebutin aja Nita. Abang pasti akan melobinya sekuat tenaga. Ini demi papa kan ? “. Heru terus membujuk adik tersayangnya. 

“ Kalau boleh milih, eeng… Anita mau nikah sama Bang Harun, temen kakak yang aktifis masjid kampus itu lho, yang berjenggot tipis, yang kalau suka nunduk, yang pekan kemarin ngisi di kajian muslimah kampus itu lho kak !”, panjang lebar Anita menyebutkan ciri-ciri sosok yang dikaguminya itu. Kini giliran Heru yang terperangah hebat. Ibunya tentu lebih merasa heran lagi. Siapa pula yang dikagumi putri satu-satunya itu.

“ Maksud Nita, Harun Rasyid ? Ketua Masjid Kampus yang asal Padang itu ? Apa kakak nggak salah denger ? 

“ Bener Kak, Nita mau kok jadi istri Bang Harun. Emang kenapa Kak ? “, tanya Anita polos. Yang ditanya diam tak bersuara. Pikiran Heru semakin pusing. Ia sangat kenal dekat dengan sosok yang dikagumi adiknya itu. Tapi mungkinkah ? Harun Rasyid, Ketua Masjid Kampus yang hafal 15 juz Quran, yang bertahun-tahun malang melintang di belantara dakwah kampus, bersanding dengan Anita, adiknya yang baru seminggu memakai jilbab dan baru lancar baca juz amma ? Semoga masih ada harapan, bisik Heru dalam hati. 

Atas nama ukhuwah dan persahabatan Heru akan meminta Harun Rasyid menjadi adik iparnya. Meski itu tampak sulit bagi Heru.. Baru sepekan lalu ia mendengar dari seorang temannya, ada seorang akhwat tingkat akhir yang nekat ‘melamar’ ketua masjid kampus itu, tapi oleh Harun lamaran itu ditolaknya dengan halus. Akhwat tingkat akhir saja di tolak, lalu bagaimana dengan Anita, adiknya yang slebor ? Pagi harinya, di temaram hangat pekarangan masjid kampus, Heru memberanikan diri untuk bertemu Harun Rasyid. Ia berharap sahabatnya itu mau membantu persoalannya.

“ Apa ? menikah dengan adik antum ? Besok pagi ? Antum nggak sedang bercanda kan Her ?”, Harun terperanjat dengan permintaan aneh sahabatnya. 

“ Please Akhi, tolong lah kami sekeluarga. Antum tahu permasalahannya memang begitu mendesak … Anita sendiri yang menyebut nama antum. Dia mau antum jadi suaminya ..”, Wajah Heru terlihat memelas. Harun juga mulai berkeringat. 

“ Tapi Her, skripsiku kan belum selesai, aku juga belum bilang sama ortuku di kampung, belum lagi ustadz Hamzah, baru kemarin ana ditanya sama beliau soal nikah. Dan ana menjawab belum siap, bagaimana mungkin sekarang ana mau minta izin soal nikah sama beliau ? Her..nggak mungkin Her… “

Heru masih gigih, ia belum menyerah. Berbagai alasan dan bujukan ia tawarkan pada sahabatnya itu, agar bersedia menikahi adik kecilnya. Sampai akhirnya Harun terpaksa menyerah. 

“ Aku akan sholat istikhoroh malam ini…. Besok pagi keputusannya. Ini karena antum sahabat dekatku Her… “

*********************** 

Hari baru menjelang, keesokan harinya, pernikahan yang sederhana dilaksanakan. Tak banyak tamu yang datang, mengingat ruangan perawatan cukup sempit menampung banyak orang. Syahdu memang, Anita menangis terisak, apalagi mengingat penyakit ayahnya yang hampir divonis dokter susah disembuhkan. Orang tua Harun jelas tak bisa datang, mereka hanya menelpon dari seberang. Beberapa teman Heru di masjid kampus datang, menyaksikan perhelatan yang cukup mencengangkan bagi mereka semua.

Pekan demi pekan berlalu. Kondisi pak Hendra paska operasi berangsur-angsur membaik. Kata dokter ini kasus yang sangat jarang terjadi, bisa dibilang sebagai anugerah Allah bagi keluarga Pak Hendra. Tentu saja semua menyambut gembira. Tapi tidak dengan Heru dan Anita, keluarga baru mereka mempunyai banyak cerita. 

“ Dik Nita, kapan ngajinya .. udah hampir maghrib nih. Tadi janjinya mau ngaji sebelum maghrib khan ? “Ntar dulu doong kaaak, Nita masih asyik nih. Acara kartun Tom and Jerry nya kan belum abis. Trus, habis ini kan ada siaran langsung seleksi AFI. Nita musti nonton kak, besok di kampus biar nggak tulalit di depan teman-teman.. 

“ Dik Nita, jilbab gedenya kapan di pakainya ? celana jeansnya di jual aja ya dee ? “ 

“ Yaaah kakaaak, kok nggak ngerti mode sih. Tahu si cantik Inneke Koesherawati nggak Kak ? itu kan model jilbabnya persis banget sama yang adek pake. Celana jeans ? sayang banget lo kak, kan belum kekecilan… “ Dik Nita, kaset rekaman nasyid punya kakak di taruh di mana ya ? “ 

“ Loh..itu punya kakak tho, maaf ya kak..tadi buat adek ngrekam lagu terbarunya Dewa dari radio. Soalnya tadi cepet-cepet banget …” 

“ Dik Nita, kok tadi salaman sama cowok di kampus. Siapa itu ? Trus kemarin sore ditelpon cowok sepuluh menit, siapa lagi tuh ? Kakak cemburu berat nih.. “ 

“ Yee..kakak possesive banget ! Pak Kyai aja salaman sama artis, nggak ada yang protes. Trus yang nelpon kemarin kan si Ipunk, teman adek sejakSMU, dia tuh kemarin curhat soal pacarnya yang nggak setia, trus dia juga mau tukeran komik Kungfu Boy edisi terbaru …”

****************** 
Bulan demi bulan berlalu. Bahtera keluarga unik Harun dan Anita masih terus berlabuh. Ketua Masjid Kampus itu masih gigih berusaha mengubah istri tercintanya agar lebih dewasa. Sesekali Heru juga ikut memarahi adiknya yang masih bandel dan slebor itu. Hati Anita memang masih diliputi kemanjaan dan kebimbingan. Sampai suatu ketika di pagi hari, Anita muntah-muntah, perutnya terasa mulas. Ada yang baru dalam rahimnya. 

“Kak Harun, Anita pengin kayak ummahat, malu sama si kecil. Anita akan pake jilbab yang rapi. Anita akan sering tilwah, Anita mau rutin almatsurot, tahajud, sholat dhuha, puasa sunah….”. Suaminya masih diam mendengarkan. “ Kak , Anita nggak mau bikin kakak gelisah lagi.Anita gak akan males pergi kajian lagi, Anita gak akan sering nonton tv lagi, nggak akan muter kaset-kaset Anita yang dulu, Anita nggak mau lagi kok salaman sama temen cowok Anita. Anita janji akan…bla..bla..bla… kakak percaya kan ? “ 

Harun tidak menjawab. Tiba-tiba ia berlalu pergi dari hadapan Anita. Ia menghilang cepat. Badannya bersimpuh, kepalanya tersungkur di sudut mushola rumah. Bersujud penuh syukur.

Cerpen Cinta | Semua Karena Kak Aji Part 1


cerpen cinta
"Semua Karena Kak Aji Part 1" - Pada cerpen kali ini saya coba share satu buat cerpen cinta menarik yang bisa anda simak. Silahkan disimak ceritanya dibawah ini, semoga bisa menghibur teman-teman semuanya ya.


Cerpen Cinta | Semua Karena Kak Aji Part 1
Aji, jika dilihat dari jauh aja udah bikin aku ga ingin makan tiga hari tiga malam. Kaulah matahari dan semangat hidupku. Kaulah yang membuatku mati-matian belajar siang malam. Tidak sia-sia usahaka selama ini ikut berbagai macam kegiatan les tambahan agar bisa diterima di sekolah yang sama denganmu.

Aji cowok berkulit sawo matang berkacamata minus dengan rambut bergaya artis korea itu adalah salah satu obsesiku agar bisa diterima di SMA unggulan ini. Mantan ketua OSIS SMPku yang kalem, murah senyum dan dimataku kian mirip dengan artis korea ini telah membuat hatiku bergejolak. Kami belum sempat dekat hingga ia lulus dan melanjutkan SMAnya di sekolah ini.

"Pokoknya gue mesti bisa dapetin dia."seruku optimis. "Siapa? Kak Aji?" tanya Dini teman sebangku yang juga teman satu SMP dulu. "Gue niat masuk sekolah ini emang pengen deket sama dia,"

Masa orientasi siswa akan berlangsung selama tiga hari. Aji termasuk dalam jajaran panitia. Aku yakin dalam waktu tiga hari sudah bisa mengajaknya ngobrol karena ia termasuk dalam daftar nama kakak kelas yang harus kumintai tanda tangan.

Setelah mencari kepenjuru sekolah, kami berhasil menemukannya di halaman belakang sekolah sedang duduk dengan teman-temannya. Aku menarik nafas menghilangkan detak jantung yang tiba-tiba saja bergentar keras. Melihat senyumnya saja membuat kakiku lemas.

"Udah buruan!" paksa Dini seraya mendorong tubuhku hingga kedepan mereka. "Cari siapa?" tanya seorang cowok yang berwajah jutek kepadaku. "Hmmm...kami mau minta tanda tangan kak Aji" kataku dengan wajah sedikit takut.

"Kalian kelas 1 berapa?tanya Aji. 
"1-2 kak!" jawabku seraya memberikan kertas untuk tanda tangan.
"Kalian dari SMP yang sama?"
"Iya"
"Sekarang satu kelas dan duduk sebangku juga?"
"Iya"
"Hmmm...seperti ini yang aku ga suka. Kalian sekolah disini untuk bisa gabung dengan anak sekolah lain, bukannya cari teman dari sekolah yang sama dan jadi teman sebangku lagi". omelnya.
"Tapi ini ga sengaja kak!" Dini membela diri.
"Alasan yang ga masuk akal. Aku ga mau ngasih tanda tangan sebelum kalian berdua pisah tempat duduknya dan cari teman dari sekolah lain" putusnya sambil mengenbalikan buku kami.

Aku menatapnya tidak percaya. Kemana Aji yang dulu kukenal ramah, baik dan tidak sombong. Kenapa sekarang ia berubah jadi galak dan jutek seperti ini.

"Kenapa, kamu keberatan?" tanyanya melihatku masih bengong di tempat.
Aku menggeleng dan lalu mengambil buku yang masih disodorkan tadi dan berlalu dengan perasaan kecewa. Aku tidak menyangka ia akan bersikap seperti ini.

"Itu tuh cowok impian lo yang dibilang ramah dan baik. huh..!! Belum jadi selebritis aja udah susah dimintain tanda tangan." Omel Dini.
"Gue juga ga tau kenapa sikapnya jadi berubah begitu"

Aku tidak habis pikir dengan sikap Aji. Apa memang sekarang dia sudah berubah. Tapi apa yang dikatakannya ada benarnya. Jika masih berteman dengan Dini, bukan tidak mungkin aku akan enggan berteman dengan teman dari sekolah lain.

"Kayaknya yang dibilang kak Aji ada benernya deh din"
"Maksud lo?"kita pisah tempat duduk?" tanya Dini kaget.
"Menurut lo gimana?" Aku balik tanya.
"Lo bener-bener cinta ya sama dia, yaudah deh nanti kita tukeran tempat duduk. Kita nanti tukeran bangku sama Wina, katanya dia ga bisa duduk di depan". Ujar Dini seraya pergi meninggalkanku.
Aku menatap Dini yang pergi meninggalkanku. Aku yakin dia marah terhadap usulanku. Ia mengira aku melakukan ini hanya untuk Aji. Walaupun memang itu adalah alasan utama, tetapi mungkin dengan cara ini kami bisa mendapatkan tanda tangan dari kak Aji.

Tiba dikelas Wina sudah duduk disampingku sementara Dini pindah kedepan bersama Ita. Hingga jam pelajaran selesai, tak ada kata dari mulut Dini. Ajakanku untuk pulang bersama ditolaknya. Sikapnya juga dingin dan tidak bersahabat.

Apakah demi seorang Aji yang dimataku sudah berubah 360 derajat aku harus kehilangan seorang sahabat dari SMP?. Pertanyaan itu terus mengisi kepalaku. Apakah yang kulakukan sudah benar? kenapa Dini tidak melihat sisi baik dari usulanku. Kita masih tetap bisa bersahabat walaupun beda tempat duduk. Apa semuai ni karena Aji.

Keesokan harinya sikap Dini masih cuek. Sapaan dan ajakanku untuk berangkat, jajan bahkan minta tanda tangan bareng ditolaknya. Ia memilih bersama Ita. Aku bingung harus bagaimana menghadapinya. Semua niat baikku tidak diperdulikannya.

Kutatap buku tanda tanganku, hampir semua sudah terisi hanya ada beberapa orang saja yang belum kumintai tanda tangan termasuk Aji. Entah kenapa niatku meminta tanda tangannya tiba-tiba lenyap. Gara-gara dia aku salah paham dengan Dini, ingin rasanya kurobek buku kumpulan tanda tangan ini jika tidak ingat besok harus dikumpulkan.

Cerita Rakyat Sangkuriang

Cerita Rakyat Sangkuriang - Anda pernah mendengar atau membacacerita rakyat sangkuriang?pastinya pernah kan, nah setiap daerah juga memiliki cerita yang berbeda-beda tentang cerita rakyat. Berikut ini kita nostalgia dengan sangkuriang, cerita rakyat pas jaman saya masih kecil.

Cerita Rakyat Sangkuriang
Pada jaman dahulu, di Jawa Barat hiduplah seorang putri raja yang bernama Dayang Sumbi. Ia
mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar
berburu di dalam hutan. Setiap berburu, dia selalu ditemani oleh seekor anjing kesayangannya
yang bernama Tumang. Tumang sebenarnya adalah titisan dewa, dan juga bapak kandung
Sangkuriang, tetapi Sangkuriang tidak tahu hal itu dan ibunya memang sengaja
merahasiakannya.

Pada suatu hari, seperti biasanya Sangkuriang pergi ke hutan untuk berburu. Setelah sesampainya
di hutan, Sangkuriang mulai mencari buruan. Dia melihat ada seekor burung yang sedang
bertengger di dahan, lalu tanpa berpikir panjang Sangkuriang langsung menembaknya, dan tepat
mengenai sasaran. Sangkuriang lalu memerintah Tumang untuk mengejar buruannya tadi, tetapi
si Tumang diam saja dan tidak mau mengikuti perintah Sangkuriang. Karena sangat jengkel pada
Tumang, maka Sangkuriang lalu mengusir Tumang dan tidak diijinkan pulang ke rumah
bersamanya lagi. Silahkan anda download sendiri cerita rakyat ini untuk cerita selengkapnya...

Download Cerita Rakyat Sangkuriang

Cerpen Islami | Cahaya Dalam Barak

Judul Cerpen Islami : Cahaya Dalam Barak
Penulis : Hatta Syamsuddin 

cerpen islami tentang perang islam
Ilustrasi
“ Allahu Akbar !! Allahu Akbar !! “ 
Pinggiran kota Faluja, sebelah timur kota Baghdad. Segerombolan 
mujahidin baru saja merayakan sebuah kemenangan. Pagi itu sebuah pesawat 
Bomber B-29 milik Amerika berhasil dijatuhkan. Tidak kurang dari dua puluh 
tujuh tentara Amerika meregang nyawa.

Sebuah keberhasilan, buah keikhlasan dalam berjuang. Para mujahidin 
itu masih asyik menembak-nembakan Automatic Klansikovnya ke udara.

Beberapa tampak melompat dan bertakbir penuh syukur. 
Seorang pemuda yang terlihat asing nampak di tengah-tengah mereka. 
Dari sosoknya ia bukan seperti kebanyakan mujahidin yang berasal dari bangsa 
Arab sekitar kawasan Teluk.

Benar, dialah Bagus, mantan perwira pertama yang desersi dari 
kesatuannya di Angkatan Darat. Kini ia bergabung dalam sebuah pasukan 
pembela nurani. Berburu surga di tengah panasnya sahara. Matanya selalu 
awas menengadah ke angkasa. Menanti-nanti burung besi Amerika yang 
angkuh menerjang bumi jihad Irak.

Wajahnya teguhnya kini lebih khusyuk. Ia ingin segera kembali ke negri 
yang dirindukannya. Bukan tanah airnya, tapi negeri yang bertabur bintang di 
balik awan. Negri yang akan mempertemukannya kembali dengan Irfan, 
sahabatnya semasa SMU dulu.

" Shuff !! mirwahiyah amrikiyah ! ilal hujuum " 

“ Tembaaaaaak……. !!! Bunuh mata-mata itu !”, terdengar perintah 
untuk menembak.

Sang Tengku terdesak. Hampir-hampir ia tidak berdaya. Serombongan 
pemuda yang tadi melindunginya telah berguguran. Sebagian yang lain 
bercerai berai. Kini, nyawa Tengku Rifai benar-benar terancam. Serentetan 
tembakan benar-benar mulai mendekat ke arahnya.

Tiba-tiba seorang tentara meloncat ke arah Tengku Rifai. 
" Tidaaaaaak ! Mundur kalian semuaaaa ! Munduuuuur ….!!! “, Letnan 
Bagus tibna-tiba meloncat ke tempat pertahanan Tengku Rifai. Ia mencoba 
menahan pasukan yang datang ke arah sosok renta itu. Beberapa kali senapan 
otomatisnya di tembakkan ke atas untuk menggertak pasukan yang mencoba 
mendekat ke arahnya.

Tret..tete…teeet..teeet…..

Desing peluru masih terdengar. Kali ini bersumber dari dua arah. Letnan 
Bagus di satu sisi, dan pasukan berseragam militer dari arah yang lain. Pasukan 
menjadi lebih panik. Salah satu ketua regu mereka, Letnan Bagus, berbalik 
melindungi Tengku Rifai dan menyerang mereka. Sebagian dari mereka 
mundur gentar. Tembakan yang keluar dari senapan Letnan Bagus 
menggetarkan hati-hati ciut mereka.

Kesempatan ini tidak di sia-siakan Letnan Bagus. Dibopongnya tubuh 
renta Tengku Rifai melompat menuju semak-semak tinggi dibelakang masjid. 
Ia terus menembak, mengalihkan perhatian. Sementara langkahnya terus 
mundur menjauh.

Tubuh Tengku Rifai lemas tak terkira. Ia hanya pasrah dibopong oleh 
Letnan Bagus dan beberapa pemuda yang sempat ikut lari menjauh. Mereka 
menyelamatkan diri. Kekuatan sama sekali tidak berimbang.

Dari jauh terdengar teriakan sang komandan,  
“ Kejar dan tangkap mereka !! Bunuh bajingan Letnan Bagus, perwira 
pengkhianat negara ! Bunuh dia ….kejar terus..jangan sampai lolos penghianat 
itu… “

Sayup-sayup terdengar adzan Isya. Rombongan Letnan Bagus, Tengku 
Rifai, dan beberapa pemuda masih terus berlari di rerimbunan pohon besar. 
Beberapa tikungan dan lembah telah mereka lewati. Namun suara tembakan 
dari seberang masih jelas terdengar. Tak ada jalan lain kecuali terus berlari. 
Perwira muda itu masih membopong Tengku Rifai. Sejuta lintasan 
pikiran berkecamuk dalam benaknya. Ia melakukan sesuatu yang sangat 
mustahil dilakukan oleh seorang perwira ! Desersi ! Yah… bukan saja disersi. 
Bahkan ia juga menyelamatkan Tengku Rifai, seorang yang oleh pasukannya 
dianggap mata-mata dan musuh negara.

Letnan Bagus tahu persis, nyawanya kini sangat terancam. Namun ia 
juga yakin, nurani telah menyelamatkannya dari kemunafikan dan kezaliman. 
Hati kecilnya sedari dulu tak pernah mau melempar kezaliman, apalagi 
terhadap manusia yang tak berdosa seperti Tengku Rifai ? Sudah cukup selama 
ini ia membiarkan pasukannya menembaki penduduk tak bersalah. 
Tentara muda itu terus melangkah dalam bingung. Kemana ia akan 
pergi setelah ini ? Bayang masa depannya kembali menari-nari mengelilingi 
benaknya.

*******************

Operasi pembersihan gerombolan separatis bersenjata di ujung barat 
pulau Sumatra, masih berlangsung. Panglima Operasi menambah pasukan 
tambahan dari pulau Jawa. Bumi serambi Mekah bergolak penuh dendam dan 
kebencian. Penduduk bingung tak tahu harus kemana. Serangan yang misterius 
setiap saat mengancam jiwa mereka.

Kawasan pinggir kota Pidie sore itu masih sunyi. Tengku Rifai baru saja 
selesai mengajar ngaji beberapa pemuda kampungnya. Mereka masih asyik 
bercakap bergerombol di didepan meunasah. Jumlah mereka sekitar tiga 
puluhan. Berbincang akrab menanti mentari beranjak ke peraduan.

Maghrib hampir menjelang, serombongan berseragam militer bersepatu 
tentara datang. Tak ada sapaan pembuka. Yang ada hanya pintu meunasah 
yang didobrak paksa dan tendangan sepatu bot yang merajalela. 
“ Mana yang namanya Tengku Rifai ! Keluar “, komandan mereka 
menyeru kasar.

Tengku Rifai yang berusia lima puluhan, namun cukup renta karena 
penyakit dalam yang dideritanya, segera berdiri. Mencoba menyambut lembut 
tamu-tamu kasarnya.

“ Saya Tengku Rifai, selamat datang di kampung kami, ada apa 
gerangan tuan datang dengan kasar seperti ini ? bukankah kami juga anak 
negri ini ? “

“ Kurang ajar ! kau mata-mata gerombolan pengacau , Engkau musuh 
negara ! Ikut kami ke markas “ 

“ Tidak bisa, ini tuduhan yang salah. Saya hanya seorang guru ngaji. 
Mana surat penangkapan dari kepolisian ? “, Tengku Rifai mencoba 
menjelaskan.

“ sekarang darurat perang ! militerlah yang mempunyai kebijakan disini. 
Pasukan !! tangkap segera Bapak ini ..” , teriak sang Komandan memberi 
perintah.

Beberapa pemuda mulai bereaksi mendengar guru ngajinya akan 
ditangkap.

“ Tunggu…. Langkahi dulu mayat kami sebelum membawa Tengku 
Rifai !! “, Seorang pemuda berteriak ke arah sang komandan. Beberapa pemuda 
yang lain mulai berhamburan mendekati Tengku Rifai.

Komandan itu mulai panik. Ia mengira akan diserang habis-habisan 
oleh puluhan pemuda di depannya. Tapi ia tidak mempunyai alasan untuk 
mundur. Empat regu yang dipimpinnya bersenjata lengkap, cukup untuk 
menghabisi dan membumi hanguskan tempat itu.

“ Pasukaan… seraaang ! Tembak bagi siapa saja yang melawan !! 
Tangkap Tengku Rifai , hidup atau mati ! “, sang komandan mulai memberi 
perintah.

Anak buahnya segera menyambut ganas. Rentetan tembakan mulai 
bergaungan. Sebagian pemuda bertiarap. Sebagian yang lain segera berusaha 
melindungi Tengku Rifai. Mencoba membalas dengan senjata seadanya. 
Konflik yang tak seimbangpun tak terelakkan.

Suasana menjadi semakin kacau dan memanas. Telah jatuh korban dari 
kedua belah pihak. Sang komandan mulai terdesak panik. 

“ Habiskan mereka semua ! Bumi hanguskan daerah ini ! Serbuuu…!!! “ 
Tret..tet..teet…teet..tet. Bunyi peluru dan teriakan kesakitan saling 
bersahutan. Suasana yang gelap menambah suasana mencekam. Darah 
bersimbah menemani curahan hujan yang mulai turun deras. Tengku Rifai dan 
para pemuda masih terus bertahan. Meski korban dari pihak mereka telah 
banyak berguguran.

Seorang tentara berdiri mematung. Ia tak banyak bergerak. Tak ada 
peluru keluar dari senapannya. Matanya hanya menerawang berkaca-kaca. 
Hatinya bergayut pada rasa yang menahannya untuk menyerang. Sang 
Komandan datang menghampiri, bertanya dengan penuh kegusaran.

“ Letnan Bagus, mengapa diam saja ! Cepat habisi mereka , mereka 
musuh negara, mata-mata gerakan bersenjata yang ingin merdeka…..”

“ Tapi Kapten, bukankah mereka cuma pemuda kampung biasa. 
Layakkah kita menyerangnya?. Lihatlah mereka tadi bersiap untuk sholat 
maghrib, dan sekarang sebagian dari mereka sudah menemui ajalnya. Apakah 
kita diperintah untuk membunuh rakyat kita sendiri ? “

“ Letnan Bagus, jangan membantah perintah ! Lihat ! anak buah anda 
dalam kesulitan..jangan biarkan mereka mati sia-sia !! “, suara sang komandan 
agak gusar. Dua perwira pertama ini saling bersitegang. Letnan Bagus tak bisa 
melawan nuraninya. Dihadapannya puluhan manusia tak berdosa terancam 
nyawanya.

Para pemuda mulai terdesak. Senjata mereka terlalu sederhana untuk 
melawan empat regu militer yang bersenjata lengkap. Mereka mulai berhasil 
mendekati Tengku Rifai. Beberapa senapan otomatis sudah mengarah tepat ke 
arah sang Tengku yang renta itu.  

Bagus segera bangkit, meloncat menuju sang korban yang 
menyelamatkannya. Raut mukanya mendadak berubah. Panik. Sedih. Wajah 
sang korban sangat dikenalnya dengan baik. Ia berteriak dalam kepanikan 
yang sangat dalam.

“ Irfaaaaan ?? Tidaaaaaaaaak …….!!!!! “

Tubuh bersimbah darah itu digoncang-goncangkan. Tak ada reaksi. 
Nafasnya masih naik turun. Hanya mata sendunya yang selalu menatap Bagus, 
sahabat dekatnya. Dalam lirih masih sempat terdengar lantunan terakhirnya. 
“ Laa ila ha illa Allah….. muhammadur..rasulullah….”

Semua diam. Panas menyengat. Beberapa polisi berdatangan. Bagus dan 
kawanannya hanya terpaku. Tak ada yang bergerak.

Tanah pemakaman masih basah. Raut kesedihan masih terpancar dari 
wajah-wajah yang bergerak menjauh. Rimbun pepohonan kamboja tak 
mampu menutupi kesedihan Bagus. Ia masih berdiri mematung di sebelah 
makam sahabatnya.. Airmatanya masih mengalir pelan.

“ Irfan,..gue malu sama lu. Lu nyelamatin nyawa gue. Mestinya kan gue 
yang mati kemaren. Kenapa loe tiba-tiba datang hanya untuk nyetor nyawa ? . 
Tapi Fan. Gue gak akan sia-siakan pengorbanan loe. Gue akan teruskan 
perjuangan loe. Gue gak akan tawuran lagi… gue akan jadi anak mushola 
kayak loe. Gue akan ikuti nasehat-nasehat loe yang dulu gue cuekin terus…. “

Bagus melangkah pulang. Entah apa yang ada dalam pikirannya. 
Bayangannya seolah tak mau beranjak dari pemakaman. Hatinya masih terpaut 
dengan kematian sahabatnya.

***********************************  

Pagi hari yang dingin di lereng gunung Tidar. Kampus Akmil Magelang 
masih berselimut kabut. Serombongan Taruna berbaris rapi menuju aula 
tempat sarapan pagi. Di hadapan, beberapa Taruna senior bersiap menyambut 
penuh kehangatan. Biasa, ada menu pembuka sebelum sarapan pagi. 
Alasannya simpel, agar perut kosong terlebih dulu.

“ Kopral Susi ! Jam berapa jadwal lari pagi ? “ 
“ Siap, jam setengah lima Sersan ! “ 
“ Berapa menit kamu terlambat ?” 
“ Siap, 30 detik, Sersan ! “ 
“ Kenapa terlambat ? “ 
“ Siap, saya sholat shubuh dulu, Sersan! “ 
“ Siapa yang suruh kamu sholat dulu ! “ 
“ Siap, ini perintah agama, Sersan ! “

Buuuuk !! Sebuah tendangan keras mengenai ulu hati Bagus. Taruna 
senior yang biasa dipanggil sersan, selalu sibuk mencari kesalahan para 
yuniornya.

Tendangan dan pukulan menjadi bahasa keakraban yang menghias hari-
hari Bagus sebagai Taruna. Entah itu di barak, aula, lapangan, atau bahkan di 
tempat mandi sekalipun. Suatu ketika, seorang taruna senior menemukan buku 
Bagus tertinggal di balik bantal.

“ Kopral Susi ! ini buku punya siapa ? “  
“ Siap, punya saya, Sersan ! “

“ Kamu dari pesantren ya ? “ 
“ Siap, saya dari SMU, Sersan! “ 
“ Bapak kamu kyai ya ?” 
“ Siap, Bapak saya pedagang, Sersan! “ 
“ Kenapa baca buku seperti ini ? “ 
“ Siap, untuk lebih memahami Islam, Sersan! “

Buuuk ! Kali ini sikutan kiri dikirim oleh seniornya. Tepat menghujam 
dada kanan Bagus. Ia diam menahan sakit. Hari ini sudah enam belas pukulan 
ia terima.

“ Kalau mau belajar agama, masuk IAIN ! jangan jadi Taruna ! Atau kau 
mau jadi teroris fundamentalis ? Awas nanti saya laporkan pembina !! “. Sang 
senior ngeloyor pergi. Tersenyum sinis penuh kemenangan.

Hari dan bulan terus berganti. Menemani hari-hari Bagus di lereng 
gunung Tidar. Mencoba untuk teguh berislam. Meski jadwal pendidikan 
Taruna sangat ketat, bahkan terlalu sering berbentrokan dengan waktu sholat. 
Semua ia jalani dengan teguh. Betapapun, ia telah memilih sebuah jalan. Meski 
ia yakin jalan itu tidak mudah, bahkan bertabur darah, keringat, dan air mata. 
Tahun berganti ….

“ Kopral Ahmad ! “, seru Bagus ke arah salah seorang yuniornya. 
“ Siap Sersan !” 
“ Panggil temanmu satu regu, hari ini kita akan sama-sama bersihkan 
masjid !”  
“ Serbuuu…ganyang habis anak Budi Perwira !! “, sambut yang lain  
hampir berbarengan.

Dalam sekejap suasana berubah menjadi kacau. Jalanan macet, bus-bus 
berhenti total. Sebagian yang masih jauh segera memutar mencari jalan lain. 
Para penumpang dan pemakai jalan lain mulai berteriak histeris.

Komplotan Bagus segera melabrak beberapa gelintir anak Budi Perwira. 
Mereka yang diserang tampak sedikit terkejut. Tapi nampaknya mereka telah 
menduga. Berbagai macam senjata mereka keluarkan. Tawuran yang ganas pun 
tak terelakkan. Masing-masing mencari lawan. Menghujam dan melempar apa 
yang bisa digunakan untuk menyerang.

Praaang !! Buuk ! Croot ! Uuugh !! Serbu ! Pantang Mundur ! Keparat 
kau ! demi Hartono ! Mana jagoan loe ! Mati kau !! Buuk ! Ciaaaaat ! 
Bagus tampak paling bersemangat. Rantai besi di tangannya berkali-kali 
menemui korbannya. Beberapa lawannya tampak benjol-benjol menahan sakit. 
Tiba-tiba, sebuah tikaman ganas muncul dari arah belakang. Tepat mengarah 
ke punggung nya. Bagus masih tak sadar.

“ Matii Kaauuu ! “, seru penyerang misterius itu dengan ganas. 
“ Bagus ! Awasssss ….!!! “, seseorang mendorong tubuh Bagus dengan 
keras hingga tersungkur. Sayang, justru ia yang menyambut tikaman ganas itu.

Darah segera mengalir deras dari punggungnya. Baju seragamnya memerah 
darah

Si penikam tersenyum puas, ia segera berbalik mundur. Teman-
temannya segera mengikuti. Mereka lari menjauh. Meninggalkan satu korban 
bersimbah darah.  

Ditengah hiruk pikuk rapat, tiba-tiba datang Irfan, sahabat Bagus 
semenjak kecil yang juga ketua Rohis di sekolah itu. Irfan menyapa mereka 
dengan lembut.

" Wah, pak Haji datang nih… lekomsalam, iya nih kita lagi pada asyik 
ngumpul-ngumpul . ", Bagus menyambut ramah sahabatnya.

" Sholat Zhuhur ? emang sekarang jam berapa Fan ? kok kite-kite belum 
denger adzan tuh ", Arga ikut menimpali jawaban Bagus.

" Memangnya ada apaan sih ngumpul-ngumpul ? ", tanya Irfan 
penasaran. Kini giliran Ronni menjelaskan,

" Ssst.. Kita akan membela harga diri sekolah ini ! siang ini kita akan 
menyerang anak Budi Utomo. Ini 100% serangan balasan ! Sudah denger kan 
berita tentang Hartono kemarin sore ? Sekarang saatnya memberi mereka 
pelajaran !! "

Wajah Irfan sedikit berubah, meski sebenarnya ia tidak terlalu terkejut. 
Antara sekolahnya dengan SMU Budi Utomo memang musuh bebuyutan..

" Apa tidak ada cara lain ? Mustinya saat ini kita berpikir bagaimana 
membantu Hartono. Kalian tahu sendiri kondisi keluarganya yang miskin kan.. 
Bagaimana kalau kita kumpulkan dana dari teman-teman dan guru, lalu kita 
berikan kepada keluarganya."

Irfan mencoba meyakinkan teman-temannya. Mereka hanya diam 
mendengarkan. Tak ada yang menyahut. Segan..

" Bayangkan, berapa biaya perawatan di rumah sakit ? darimana ibunya 
mendapatkan uang sebesar itu ? Hartono lebih membutuhkan dana, dari pada   
kalian membalas anak Budi Utomo. Lagi pula, bagaimana jika akan ada korban 
lagi ? "

Beberapa wajah kembali berpandangan. Mereka kemudian melihat ke 
arah Bagus, sang pemimpin komplotan, seolah menunggu keputusan darinya. 
Bagus menggeser posisi tubuhnya, lebih mendekat ke arah Irfan. Tangannya 
masih terkepal.

" Irfan, usulan lu bagus, dan kite juga tahu kondisi keluarga Hartono. 
Kite setuju, dan kite akan kumpulkan dana buat dia. Tapi, ini masalah harga 
diri ! Kita harus beri mereka pelajaran.. Jika dibiarkan ! Sekolah kita akan 
diremehkan !. Bukan begitu teman-teman ? "

" Betul ! kita tetap menyerang dan juga ngumpulin bantuan.Setujuu ??", 
kembali Arga memprovokasi temannya yang lain. 
" Setuju… horee..horee…. !!! "

Suasana kembali gaduh. Mereka bersemangat untuk membalas. Irfan 
terdiam. Ia tak bisa berkata banyak kali ini. Ia telah berusaha.

***************

Perempatan jalan Patimura di kawasan Blok M memang cukup strategis. 
Dari sekolahnya, Bagus dan kawan-kawannya hanya perlu sedikit memutar 
lapangan bola untuk sampai kesana. Di perempatan itu, anak-anak SMU Bina 
Perwira biasa nongkrong sebelum pulang ke rumah.

“ Serbuu…..!! jangan ragu-ragu, demi Hartono ! “, Terdengar teriakan 
komando pembuka dari Bagus. Tangan Bagus terkepal ganas. Matanya melotot tajam. Berita yang baru 
saja ia dengar dari teman-teman komplotannya membuat kupingnya memanas. 
Mereka berkerumun di pojok kantin sekolahnya..

" Jadi, bagaimana nasib Hartono sekarang ini ? ", tanya Bagus penuh 
geram.

" Ia masuk UGD Fatmawati, darahnya banyak keluar. Kemarin sore 
bajingan-bajingan dari SMU Budi Utomo mengeroyoknya di halte depan 
pasaraya Blok M ", Arga, teman terdekat Hartono, mencoba menjelaskan.

" Keparat ! mengapa mereka menyerang kita kembali ? ", tanya Roni, 
anggota komplotan yang juga aktif di PMR.

" Biasa, ada cewek Budi Utomo dipalak sama anak sekolah kita, sehari 
sebelum kejadian. Trus, ia lapor sama cowoknya. Akhirnya.. ", Agra 
menjelaskan duduk permasalahan menurut versinya.

" Sudah..sudah, cukup ! Siang ini kita harus balas menyerang mereka ! 
Harga diri kita dan sekolah ini telah diinjak-injak ", Bagus mulai mengomando 
dengan geram..

" Betul ! Horeee.. , hidup SMU Bina Perwira !", Teriak mereka dalam 
kegaduhan di siang yang sunyi.

" Segera persiapkan semua perlengkapan, sabuk baja, pisau lipat, rantai 
besi dan batu beton ! ", kembali Bagus mengomandoi komplotannya.